Pasar keuangan global dikejutkan oleh langkah bank sentral Amerika Serikat. Pada hari Rabu waktu setempat (16 September), The Federal Reserve memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin hingga berada pada kisaran 3,75–4 persen. Kebijakan ini menandai kenaikan suku bunga yang pertama sejak bulan Juli 2023, setelah bank sentral AS tersebut tidak mengubah suku bunganya selama hampir 3 tahun 2 bulan.
Keputusan tersebut diambil akibat tekanan inflasi di AS yang masih tinggi, dengan persetujuan bulat dari seluruh komite kebijakan Fed sebanyak 12 suara berbanding nol. Pihak Fed turut memberikan isyarat potensi kenaikan lanjutan sebelum tahun ini berakhir. Kondisi tersebut langsung direspon oleh pasar melalui penguatan dolar, lonjakan imbal hasil obligasi AS, serta tekanan pada pasar saham.
Dampak kebijakan ini langsung dirasakan di dalam negeri. Pada perdagangan Kamis pagi, nilai tukar rupiah dibuka melemah ke level sekitar Rp17.725 per dolar AS. Para investor berpindah ke aset berbasis dolar, yang berimbas pada tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Keadaan tersebut berpotensi memengaruhi biaya impor, cicilan, serta pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Langkah The Fed tersebut menunjukkan prioritas untuk mengendalikan harga ketimbang menurunkan suku bunga. Kenaikan suku bunga AS ini secara langsung mendongkrak biaya dana global, sehingga Bank Indonesia bersama pasar domestik perlu menentukan langkah penyesuaian selanjutnya.
Kalian udah ngerasa dampaknya di harga atau investasi belum?
Sumber: Kompas | Rupiah Tertekan ke Rp 17.725 Per Dollar AS Usai The Fed Naikkan Suku Bunga | Redaksi kompas | 17 September 2026 | *ilustrasi AI




Tinggalkan Balasan